Minggu, 09 April 2017

PERSAHABATAN DIANTARA HUJAN
                Hujan hadir dalam cerita tentang kita. Hujan pun tau betapa aku merindukannya , betapa aku ingin kembali melewati hari-hari dengan penuh canda dan tawa , betapa aku mengahrap kan dirinya kembali kesampingku. Hujan bahkan tau bahwa aku sangat memikirkan dirinya. “Rel, kamu tau gak kalo Rara mau pindah he?” pertanyaan Rizky sontak membuatku kaget dan sengaja kujatuhkan pulpen yang tadinya kupegang.
“Hsssh… nggak usah ngarang ataupun ngelucu deh, gak lucu tau!” balasku.
“Ngapain aku bercanda, ini serius rel ! Dia mau pindah ke jogja, mungkin sore ini dia berangkat.” Jawab Rizky yang membuatku yakin. Tanpa babibu atau apalah itu, ku bergegas menuju rumah Rara mengayuh sepedaku dengan cepat.
                Aku dan Rara sudah kenal sejak masih kecil. Kemanapun aku pergi Rara selalu ada disampingku, begitupun sebaliknya. Kami seperti tak terpisahkan oleh apapun. Bahkan aku masih ingat ketika Rara pulang sekolah dia diganggu oleh anak-anak nakal, untungnya saat itu aku berbalik arah karena bukunya masih terbawa olehku. Dan kulihat Rara sedang dihadang oleh anak-anak nakal itu, dengan sigapnya kuhajar anak-anak itu tanpa ku ampuni mereka. Satu tekadku, melindungi Rara dari bahaya apapun yang mengganggu dia. Hubunganku dengan Rara memang sudah akrab sekali, begitupun dengan kedua orang tua kami yang juga saling kenal.
                “Rara…” panggilku kepada Rara didepan rumahnya. Karena tak ada respon aku pun langsung masuk kedalam rumah tanpa permisi.
“Kenapa Rel ?” terdengar suara lembut itu dari halaman belakang. “Ra kamu masih anggep aku sebagai sahabatmu kan ?” Kataku yang langsung membuat suasana menjadi hening.
“Ya masihlah, kamu kenapa toh ?” tanya Rara heran. “Kamu bakal pindah rumah kan? Iya kan? Jawab aku Kania Zahra !” pintaku pada Rara dengan nada yang agak ku naikkan.
“Ma,,, Maaf Rel.”  Jawab Rara yang mulai tak sanggup menahan air matanya.
                Aku yang tak pernah melihat Rara menangis langsung ku hampiri dan kuseka air matanya.
“Ra jangan nangis, maaf ya… please ?” pintaku dengan nada lirih.
Tiba-tiba Rara memelukku dengan penuh tanda tanya dalam benakku.
“Maafin aku ya Rel, karena nggak bilang sama kamu. Aku gak pengen kamu sedih, dan yang paling aku takutin saat aku gak akan bisa ninggalin kamu Rel.”
“Tapi Ra yang bakal aku nyeselin entar disaat-saat terakhir aku bisa sama-sama kamu, aku nggak ngasih kenang-kenangan ke kamu.”
                Tanpa kami sadari awan hitam telah menyelimuti langit dan hujan pun mulai turun dengan deras. “Lho udah ujan, masuk yuk..” tanyaku kepada Rara.
“Nggak mau ah!! Rel, udah lama kita gak ujan-ujanan, emm kamu mau kan Rel neminin aku ujan-ujanan?” “Mana pernah aku nolak kamu, yaudah yuk...”
                Kami pun berlari-lari menerjang hujan yang turun begitu derasnya. Ku nikmati setiap tetes air yang turun dengan perasaan bahagia, bahagia karena Rara ada bersamaku.
“Aku pasti akan rindu dengan ini Rel.”
“Aku juga bakal kangen canda tawa kita.”
Kami sama-sama menyukai hujan, karena hujan menciptakan tetes-tetes air yeng menyegarkan.
                Matahari tampaknya mulai bangkit menampakkan wujudnya, aku duduk dihalaman rumah untuk melepas kepergiannya hari ini.
“Nyanyiin aku dong Rel.” tiba-tiba suara Rara mengagetkanku.
“Males ah..”
“Yah kamu tega ya lihat aku nangis ?” bujuk Rara.
“Yaiya, ntar ya aku ambil gitar dulu…”
                Bejanjilah wahai sahabatku
                Bila kau tinggalkan aku
                Tetaplah tersenyum
                Meski hati, sedih dan menangis
                Kuingin kau tetaplah tabah menghadapinya
Alunan gitar dan nyanyian itu seakan-akan memutar kembali semua kenangan aku dan Rara yang kita lalui bersama.
                Bila kau harus pergi
                Meninggalkan diriku
                Jangan lupakan aku
                Semua waktu yang telah kita lewati berdua
                Canda dan tawanya
                Senyum dan tangisnya
                Aku pasti akan sangat merindukannya
                Semoga dirimu disana
                Kan baik-baik saja
                Wahai sahabatku
                Disini ku kan selalu merindukan dirimu
                Wahai sahabatku…
Aku terdiam saat ku lihat tetesan air mata turun perlahan dari mata indahnya.
“Ra kamu gak papa kan?” tanyaku.
“Rel jangan lupain aku ya ?” kata Rara lirih.
“Ya enggak lah, aku nggak akan lupa sama kamu kok.”
Ku ambil sebuah kotak dari dalam sakuku.
“Hey sayang, ini buat kamu.”
“Liontin ?” tanya Rara sambil bingung.
“Iya, ini sepasang liontin yang satunya ada sama aku, sini aku pakein.” Ucapku sambil memakaikannya pada Rara. Rara pun mengangguk gembira.
“I will miss you so much Farel.”
“Me too Rara sayang, jaga diri kamu baik-baik yah..”
                Diiringi dengan turunnya hujan kepergian Rara terasa berat, ingin rasanya kukejar mobilnya, tapi kaki ku terasa kaku tak berdaya lagi.
“Farel, aku pasti baik kok !” teriak Rara dari kejauhan.
Aku hanya bisa tersenyum tanpa bisa berbuat apa-apa lagi. Raganya tak ada lagi disampingku, takkan ada canda tawa hari-hariku lagi. Yang ada hanyalah kenangan saat bersamanya. Hujan terus menerus membahasi ragaku ini.
Dua tahun sudah semuanya berlalu. Kini aku duduk dibangku SMA, di sekolah favorit yang ada di kota ku. Setelah kejadian itu kini aku menjadi prmuda yang cuek sama semua hal yang ada dan terjadi disekitarku. Tak pernah ada yang mengusik kehidupanku, hingga seorang gadis datang dan merubah segalanya.
                Koridor sekolah nampak lengang, aku masih berlari menuju kelas ku. Jam pertama di kelasku yakni pelajaran fisika, dan aku sukses berangkat telat karena aku semalaman ngerjain tugas fisika yang menggunung. Semenit saja aku telat, tamatlah sudah riwayatku.
                “Bruuukk ! ! !” seseorang menabrakku. Aku kemudian bangkit dan berniat untuk lari, namun langkahku terhalang oleh orang yang menabrakku tadi.
“Seenaknya aja ya lu udah nabrak ngga minta maaf, eeh . . .  malah mau pergi gitu aja.” Celotehnya yang membuatku tambah kesal.
“Berisik lu. Gue telat tau ! Ya salah lu lah, jalan ga liat-liat!” bentakku.
“Heh yang jalan ga liat-liat tuh elo.” Katanya sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.
“Minggir-minggir gue udah telat.” Ucapku yan kemudian lari meninggalkan gadis tadi. Sial ! ! ! kataku dalam hati. Pasti aku tak bisa mengikuti pelajaran pagi ini dan sudah terbayang dalam pikiranku wajah guru fisika yang killer dan hukuman yang sudah menantiku.
                Namun, nampaknya beruntung pada diriku. Sedari tadi belum nampak adanya pelajaran ataupun hadirnya guru killer itu. Karena situasi yang aman kulangkah kan kaki menuju tempat duduk ku.
“Kemana aja sob jam segini baru nongol?” tanya Rio salah seorang temanku. “Untung aja tuh guru belom dateng.” Timpalnya lagi. “Hehehe... biasa semaleman gue ngga tidur buat ngerjain PR. Mana tadi ada acara tabrakan sama cewek gila lagi !”
“Siapa Rel? Cantik kagak ?”
“ Tau tuh, ngga pernah lliat. Anak baru kali.”
“Hnn . . . cantik?”
“Kepo ah lu!”
                Tiba-tiba suasana menjadi hening, setelah wali kelasku masuk. Terlihat dibelakangnya seorang gadis yang kutabrak tadi. “ Kenapa musti sekelas sama dia?” tanyaku dalam hati.
“Hallo semua. Namaku Putriana Zahra. Aku pindah dari jogja, salam kenal . . .”
                Deg ! ! Mendadak aku terdiam setelah gadis itu memperkenalkan diri. Zahra ?? Dari Jogja? Ingatanku berputar pada sosok masa laluku. Sahabat kecilku. Mungkinkah dia?

                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar